Air

Kepulangan selalu diserta aroma duka, sebab angin dan sepi yang kita bawa. Bunga-bunga menabur cinta pada selimut persinggahan. Hujan tanpa reda, dikirim jadi ganti air yang mengalir melalui celah pelupuk mata. Tanpa terasa waktu bergerak begitu cepat. Menguak peristiwa demi peristiwa yang tidak dapat aku mengelak. Salah satunya adalah kepergian. Kehidupan memang telah membuat aku bahagia, namun disaat yang sama, ia merenggut satu persatu manusia yang berarti dan kucinta dalam hidupku. Tanpa peduli bahwa hatiku akan sedih dan sendiri.

“Yang tabah Mita… semua akan ada gantinya. Percayalah…,” kata Nada yang baru saja menyudahi pelukannya dari tubuhku.

“Sabar Ta, kamu tidak sendiri,” kata Lula sambil mengusap pundak kiriku.

“Sabar Nduk, jangan diratapi. Jangan terlalu dibawa hati. Relakan agar ayahmu tenang disana,” kata Tante Tisha sambil mengusap belakang kerudungku. Tante Tisha adalah saudara jauhku. Kami tidak mempunyai ikatan darah. Tapi, keluarga kami memang dekat, meskipun kota kami berbeda. Sementara Nada dan Lula adalah teman-temanku yang masih sering aku temui di antara kehidupanku sekarang.

Kudengar semua kata-kata mereka. Tapi, hatiku terlanjur perih dan aku biarkan diriku dengan pikiranku sendiri. Kenapa Tuhan mengambil mereka, orang-orang yang kucinta? Kenapa bukan aku saja! Aku merutuki diri sendiri dan benci pada hidupku.

Dulu ketika detik aku baru saja lahir, beberapa detik kemudian bunda tiada. Sepanjang setelah kejadian itu dan aku beranjak menjadi anak yang bisa berpikir, serta mampu mengenal rindu, aku hanya bisa haus rindu pada bunda tanpa pernah bertemu di dunia tempatku bersinggah ini. Sesekali aku benar-benar haus, sampai aku harus mengeluarkan airku sendiri dari pelupuk mata. Tapi, ayah menyeka. Sebab kesedihan katanya tidak abadi. Yang abadi adalah kita. Lalu bagaimana caraku menyampaikan rindu karena cintaku pada bunda?

Ayah bercerita bahwa dia selalu setia pada bunda, karena dia cinta. Katanya, cinta itu sederhana. Selain harus saling memahami, mendoakan kepada yang dicinta setelah sujud terakhir adalah cara menyampaikan bentuk cinta diam-diam yang lebih baik daripada yang lain. Entah itu kepada yang telah tiada atau yang masih ada. Aku percaya. Kemudian aku melakukan hal yang sama dalam mencinta. Entah itu kepada bunda, ayah, dan teman-teman terbaikku.

Bersama waktu aku melangkah. Aku menapaki masa remaja, lalu mulai terpikat dengan lelaki. Bukan hanya sekali, dua kali aku terpikat dengan lelaki, tapi berkali-kali. Sampai jantungku bahkan pernah berdebar hebat akibat sesuatu yang tidak biasa aku rasakan. Kata teman-teman, itu namanya jatuh cinta. Aku bertanya-tanya. Apa bedanya cintaku pada ayah dengan cintaku pada lawan jenis? Aku mendapatkan jawaban sederhana bahwa cintaku kepada ayah adalah bentuk bakti cinta kepada orang tua yang tidak akan pernah putus sepanjang masa, sedangkan cintaku kepada lawan jenis adalah cinta yang menunjukkan bahwa aku ini perempuan normal, dimana kodratnya laki-laki dan perempuan adalah pasangan.

Dari sekian banyak lelaki, yang terakhir aku suka dengan sangat tidak diduga-duga, ternyata dia menyukaiku juga. Namanya Bara. Dia mendekat, menyatakan cinta, menawarkan diri untuk menjadi kekasihku. Aku terpesona dengan cumbu rayu dan janji manisnya. Sampai aku lupa diri, karena terlalu jatuh jauh di dalam sana. Sebelum adanya peristiwa ini, ayah sempat berpesan padaku untuk tidak mendekati lelaki semacam itu, karena lelaki semacam itu hanya akan merugikanku dengan menyentuhku, melenakan dengan pandangan, dan hati. Maka, semua itu menjadi sebab adanya mendekati zina. Tapi, aku menerima Bara sebagai kekasihku secara diam-diam. Sebab aku percaya bahwa dia lelaki yang baik.

Seminggu bersama, tanda-tanda tentang ungkapan ayah benar terjadi. Bara berani menyentuhku sesuka hatinya dan bagian mana yang ia suka. Tanpa sadar, ia juga membuatku lena pada pesonanya, sementara aku perlahan sering menentang ayah hanya untuk dapat bersama Bara. Cepat aku sadar bahwa aku terpedaya dengan politik cintanya. Aku memutuskan atas kehendakku sendiri untuk menjaga kehormatanku sebagai perempuan. Dosa terbesar dalam hidupku yang mana aku belum sempat jujur pada ayah bahwa aku membohonginya soal pacaran dengan Bara sampai sekarang dan aku menyesal. Sungguh.

Lama aku mati rasa soal perkara wangi bau hati. Tiga tahun kiranya setelah pacar pertamaku itu. Sampailah aku pada usia 17 tahun. Dimana titik temu jatuh cinta itu kembali muncul karena seseorang. Munculnya cinta seringkali tidak mengenal tempat, waktu, dan alasan. Begitu pula cintaku pada lelaki itu. Kami hanyalah dua manusia yang tidak saling mengenal. beda sekolah, dan beda kota. Kami bertemu saat organisasi di SMA-ku mengadakan study banding di SMA yang ada di Jawa Tengah. Sementara aku berasal dari Jakarta. Begitu terbayang seberapa jauhnya.

Sederhana saja, benih-benih cinta itu muncul hanya dalam dua kali tatap, dimana dia dan aku saling bertukar senyum saat kami berpapasan di saat masuk ruang aula sekolahnya. Aku keluar, dia masuk ruangan, dan dimana ketika dia menyelesaikan tilawatil Qurannya sebagai pembuka acara kedatangan sekolahku di SMA-nya.

Sesederhana itu aku jatuh cinta kepadanya. Tapi, mustahil bagiku untuk kembali bertemu dengannya lagi. Mengingat jarak dan setelah kejadian itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Akupun hampir melupakan wujud wajahnya. Tapi, aku selalu ingat bahwa aku pernah jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta yang kurasa hanya sekilas, tanpa ada arti penting apa-apa di dalamnya. Aku sempat berdoa agar kami dapat bertemu lagi. Tapi, entahlah. Hidup kadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Aku menyudahi untuk mengingat lelaki itu, meskipun kadang-kadang aku masih merasa ingin bertemu lagi. Cepat aku sadar. Dia semu.

Aku semakin dewasa, kuliah, kembali mengenal cinta yang lain pada lelaki bernama Hasan, lalu kami wisuda dalam waktu yang sama, dan aku bekerja dengan profesi asisten dosen. Meskipun kami beda jurusan, akan tetapi satu fakultas. Kami saling mengenal baik, karena kami satu organisasi. Dia melamarku, aku menerima meskipun rasaku padanya hanya rasa suka sebagai seorang sahabat. Tapi ini merupakan kesempatan yang tidak bisa aku tolak. Karena hidup tidak bisa direka-reka tentang kapan akan menghadirkan lelaki seperti Hasan lagi. Ayah setuju. Acara lamaran kami berjalan lancar. Rencana pernikahan kami bulan depan. Kami semua sudah merancang dengan sangat apik. Aku pun pelan-pelan belajar mencintainya. Sampai suatu peristiwa menimpaku sebelum bulan pernikahan kami tiba.

Sepulang kerja dengan mengendarai motor, kendaraanku oleng, sampai akibatnya aku menabrak mobil. Aku tergelepar cukup jauh dan pandanganku kabur. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Saat aku bangun, aku merasa ada yang berbeda. Kaki kiri dan tangan kiriku mati rasa. Sama sekali aku tidak bisa menggerakkan keduanya. Ayah bilang, karena patah tulang. Maka, aku harus dengan lapang merasakan kelumpuhan dalam jangka waktu sementara, tapi tentunya kesembuhan itu akan lama datangnya.

Disaat yang sama, bunda Hasan tidak terima dan tidak mau memiliki calon menantu yang patah tulang sepertiku. Secara terang-terangan Ibu Hasan menyindirku, karena kekecewaannya atas keadaan diriku. Dari situ aku tahu bahwa ternyata Ibu dari Hasan memanglah orang yang sulit menerima keadaan yang tidak membuatnya nyaman. Dia bilang bahwa dia tidak mau anaknya repot mengatur kondisiku, tidak mau anaknya mempunyai istri yang patah tulang sampai tidak bisa mengurus rumah tangga, dan lain sebagainya. Kemudian, aku harus merelakan kepergian seseorang yang kucinta dalam hidupku lagi setelah bunda. Aku melepas cincin lamaran ini, karena ketidakrelaan ibu dari Hasan akibat kondisiku. Hasan teramat kecewa dengan sikap ibunya. Tapi, daripada menjalani hubungan yang tidak diridai adalah perkara yang kurang apik, maka Hasan dan aku tidak melanjutkan ke posisi pernikahan. Kami berhenti. Hasan menikah dengan perempuan lain. Aku turut bahagia. Meskipun hati ini tercabik oleh luka dan airku kembali mengalir dari pelupuk mataku menuju ke pipi, lalu jatuh. Jatuh yang menyakiti.

Aku menjadi sepi dalam menjalani hari-hariku. Aku ingin libur dengan perkara cinta. Tapi, ayah mengingatkan untuk tetap lapang dan merelakan. Begitu terus sejak aku kecil sampai sekarang. Ayah memintaku untuk mengalah, merelakan, dan lapang, juga terus berdoa kepada Tuhan untuk diberikan yang terbaik. Sampai aku bosan. Tapi aku berpikir. Aku masih punya ayah. Aku kembali melakukan hal yang sama sesuai permintaan ayah. Aku memang telah bekerja, tapi pekerjaanku menjadi asisten dosen itu hanya menggantikan posisi tetanggaku yang tengah melanjutkan studi S3 di luar negeri. Setelah ia lulus, aku berhenti. Giliran aku untuk melanjutkan studi S2. Dua tahun aku menyelesaikan masa S2-ku. Sebenarnya aku kembali diminta untuk mengajar, namun itu bukan cita-citaku. Aku kembali mencari pekerjaan sesuai cita-citaku sebagai salah satu editor di sebuah perusahaan penerbitan buku. Aku diterima dan menetap disana. Aku bahagia dengan pekerjaanku dan aku kembali tenang dan bahagia dengan hidupku, tanpa perlu mengingat masa lalu.

Suatu peristiwa soal kepergian kembali terjadi setelah 1 tahun kemudian. Saat ini, sekarang. Di tempat aku berpijak ini. Bersama orang-orang yang tengah berduka dan beberapa diantaranya sama-sama berair pilu sepertiku. Tapi tentu saja, hanya aku yang paling pilu. Ayahku, tiada. Tiada bukan karena sakit, bukan juga karena kecelakaan. Tuhan memang berkehendak. Ayahku yang senja karena usia lanjutnya. Dia hanya duduk terpejam di sebuah kursi goyang dan pejaman itu tidak pernah terbuka lagi tanpa aku tahu kapan itu semua bermula. Setahuku ayah hanya sedang duduk begitu damai disana. Kursi goyang itu adalah saksi bisu atas kematian ayahku.

Sekarang aku benar-benar sendiri. Sebatang kara. Tiada lagi sosok tercinta yang mendampingiku. Aku harus bagaimana? Mengalah, merelakan, dan lapang lagi? Berdoa agar diberi gantinya lagi? Hatiku sedih, perih, dan sendiri. Aku bosan menjadi lemah! Tapi, aku juga tidak kuasa untuk menjadi kuat. Aku ini apa? Siapa? Aku kehilangan semuanya! Diri ini merapuh. Aku lelah dengan semua ini. Aku benci. Aku merasa doaku tidak pernah didengar. Aku putus asa. Tante Tisha membawaku pulang setelah pemakaman ayah, karena merasa kondisiku benar-benar hancur.

“Tante akan tinggal bersamamu dalam sementara waktu untuk temani kamu, ya,” ucap Tante Tisha kepadaku yang masih merangkulku sejak dari dalam mobil.

Aku hanya mengangguk lesu, tapi tentu tante tahu kalau aku sedang tidak punya rasa untuk bicara. Tante Tisha benar tinggal sementara waktu di rumah untuk menemani sampai aku benar-benar merasa tenang. Satu minggu Tante Tisha tinggal. Setelah itu aku kembali dengan pekerjaanku dan dia kembali pula dengan pekerjaannya.

            Sudah berbulan-bulan aku kembali bekerja. Tapi, aku selalu merasa lesu dan kurang bersemangat dalam menjalani hari, meskipun aku sudah tidak lagi sehancur dahulu. Kehilangan membuatku juga sedikit hilang dalam merasa. Aku sedikit merasa mati. Hidup rasanya kelabu dan tidak lagi membuatku tertarik. Tapi, aku tidak mau mati. Karena kematian juga tidak menjawab apa-apa. Apakah aku kurang mengikhlaskan hidupku? Atau apa? Ah, entahlah. Aku hanya menjalani semampuku dan yang penting aku sudah mengalah, merelakan, dan lapang atas kepergian ayah. Suara ketukan pintu ruangan kantor dari luar telah membuyarkan lamunanku.

“Masuk!” teriakku dari dalam.

Dibukanya pintu itu dan muncullah seorang perempuan muda yang masih remaja. Gadis itu menutup pintu kantor kembali, lalu mengulum senyum simpul kepadaku dan aku membalasnya. Aku memintanya untuk duduk. Ah, gadis ini mengingatkan aku tentang masa muda remajaku dimana gairah akan rasa cinta masih mengalir begitu deras. Nama gadis itu Raisa.

“Ada keperluan apa?” tanyaku dengan ramah.

“Loh, kemarin kan Kak Mita meminta saya untuk datang dan membahas mengenai buku karya saya?”

Pikiranku sedang agak buntu, “Bu-ku? Buku yang mana?”

“Buku yang judulnya Dalam Doaku karya Raisa Fernandita. Wah, Kakak banyak kerjaan ya, jadi lupa. Hehe,” gadis itu menyeriangi canda.

Mendengar penjelasan itu aku baru teringat kalau kemarin malam kami memang sudah berjanji untuk bertemu. Aku meringis. Sedikit merasa bersalah karena nyaris melupakan temu janji kepada penulis muda satu ini. Aku mengambil naskah miliknya. Tujuanku meminta untuk bertemu adalah agar dia merivisi tulisannya dan menunjukkan letak-letak yang harus direvisi. Sesekali dia mengangguk mengerti atau menjawab ya saat aku jelaskan. Atau sesekali dia bertanya, karena tidak mengerti. Aku berbicara dengan kadar bahasa tingkat anak agar dia mampu memahami pembicaraanku.

“Saya senang dengan ide tulisan kamu. Terasa nyata, karena sebagian dari isi tulisan kamu mengingatkan saya kepada ayah dan bunda saya,” kataku kepada Raisa dengan senyum dan tatapan lurus, namun pikiranku mengawang akan sosok wajah ayah. “Buku kamu ini sangat memotivasi. Saya suka dan sangat mengahargai karya ini. Sungguh. Darimana ide kamu ini muncul? Boleh Kakak dengar ceritanya?”

“Wah terima kasih, Kak, atas pujiannya. Tapi, tulisan saya itu belum apa-apa. Sebenarnya pula, kisah dari cerita itu semua adalah curahan hati saya yang memang nyata dan hanya bisa saya baca sendiri tadinya. Novel itu sangat sederhana sekali, Kak, buat saya. Saya merasa senang ketika Kak Mita mau menerbitkan buku saya dan mempercayai bahwa buku itu mampu memberi motivasi. Dengan begitu, orang lain bisa membaca dan merasakan apa yang saya rasakan. Tapi tentunya, saya tidak bisa memberikan sebuah keluh kesah saja dalam cerita tanpa ada penyelesaiannya. Buku saya tentu tidak akan berarti jika hanya saya isi dengan keluh kesah dan penyelesaian yang asal-asalan. Maka, saya ingin membuat sebuah kepercayaan yang nyata dan benar terjadi agar pembaca mampu merenungkan dari apa yang saya rasakan.

Sebagai penulis, saya jadi terpacu untuk memulai dari diri saya sendiri. Mencoba keluar dari zona keterpurukan menuju sebuah pengikhlasan yang sebenar-benarnya. Seperti apa yang saya ceritakan dalam novel saya. Saya yatim piatu. Bahkan saya belum pernah sekalipun melihat kedua orang tua saya seperti apa. Saya merasa sangat marah kepada Tuhan. Karena saya merasa Tuhan tidak adil. Tapi itu terasa tidak penting lagi setelah kemarahan saya nyatanya tidak menghasilkan apa-apa dan malah membuat hidup saya semakin buruk.

Saya mencari tahu apa yang tidak saya tahu sampai saya menjadi tahu. Saya melakukan kegiatan yang saya senangi. Menulis dan membaca. Saya mulai merasa hidup dengan hobi itu. Tapi saya tidak pernah bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam cerita tersebut. Saya selalu merasa kesal dan marah. Tapi, saya terus berpikir dan merenung. Saya sangat ingin bisa menyelesaikan cerita-cerita saya.

Lalu saya mulai dengan perbaikan diri secara pribadi. Mencari-cari kesalahan dalam diri saya, lalu bertanya-tanya kepada yang lebih mengerti untuk memperbaikinya. Karena saya niat, saya mulai dari nol. Saya baru sadar, bahwa saya ini adalah orang yang kurang bersyukur. Justru saya yang tidak adil dengan Tuhan. Dari hal-hal kecil saja. Dia masih memberi saya napas, tubuh sempurna, badan yang sehat, otak yang pintar, rumah untuk singgah, nenek yang menemani, dan teman-teman, juga guru yang menyayangi saya. Padahal diluar sana, masih begitu banyak anak yang bahkan cacat fisik, hidup di jalanan tidak terurus, dan masih banyak lagi ujian-ujian mereka. Dari situ saya sadar. Saya jahat kepada Tuhan. Dari kesalahan-kesalahan tersebut saya memperbaiki diri dan mulai menguatkan diri.

Kekuatan saya untuk menjadi lebih baik juga menjadi kekuatan saya untuk merampungkan masalah-masalah yang ada pada novel saya. Secara tidak sengaja, ternyata saya telah menyelesaikan masalah nyata dalam hidup saya sendiri. Saya selalu yakin, bahwa Tuhan selalu ada di setiap langkah saya sebagai kekuatan saya. Meskipun hidup saya tidak seberuntng teman-teman di luar sana. Saya merasa Tuhan menyayangi saya. Karena kesempatan untuk menerbitkan buku dan dibaca oleh banyak orang bukanlah hal yang mudah untuk teman-teman saya yang beruntung untuk mereka dapatkan juga. Semua sudah ada bagiannya dan saya merasa diamanahi oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan yang baik dalam buku yang saya buat. Maka, saya ingin menjaga amanah-amanah itu dengan tidak memihak, tapi dimulai dari diri saya sendiri.

Ternyata, suatu peristiwa hampir menjatuhkan aku lagi. Nenek meninggal, karena memang sudah waktunya. Lalu aku tinggal dengan siapa, kala itu aku benar-benar tidak tahu dan bingung. Kembali aku marah kepada Tuhan, karena Dia mengambil nenek. Tapi cepat aku sadar bahwa setiap manusia pasti mati. Kelak aku pun juga, aku kembali menetralkan diri, dan tidak marah lagi pada Tuhan. Aku berdoa dan terus berdoa agar Tuhan memberikan bantuan. Tanpa diduga, Tuhan menjawabnya. Aku dibawa ke Panti Asuhan dan menemukan banyak sekali anak yang mempunyai macam-macam cerita soal orang tua dan hidupnya. Bukan hanya aku yang mempunyai ujian berat. Bukan hanya aku yang punya luka. Semua orang pernah dan ada bagiannya sendiri-sendiri. Semenjak itu, kecintaanku pada Tuhan semakin aku kuatkan. Doaku adalah kekuatanku. Maka saya beri judul buku itu Dalam doaku. Sekarang, saya diambil menjadi anak dari kedua orang tua yang mampu. Semua kebahagiaan ada waktunya. Tuhan selalu tahu waktu yang tepat untuk itu. Cinta itu sederhana, Kak. Hanya kita saja yang selalu mempersulit.” jelas Raisa dengan senyum lebar dan semangat mudanya.

Aku tercenung. Ada pesan menohok dalam setiap kalimat yang diucapkan Raisa kepadaku. Aku menjadi marah. Marah kepada diriku sendiri. Ternyata selama ini aku memang tidak pernah mengikhlaskan kenyataan hidupku sendiri? Aku telah menghilangkannya setelah kepergian ayah. Aku melupakan Tuhanku. Syukurku tak lagi hadir untuk Tuhan. Aku lari dari masalah. Aku pengecut. Kekanak-kanakan. Padahal di luar sana masih begitu banyak manusia yang lebih jatuh jauh dalam kepedihan, tapi dia masih berdiri tegar, dan bahkan ingin mewujudkan kemanusiaan yang kuat agar orang-orang diluar sana tidak rapuh, serta kembali kepada jalan yang benar. Itu dia, Raisa. Yang aku tahu bahwa dia dahulu adalah anak remaja yatim piatu sejak kecil dan tinggal bersama seorang nenek yang lumpuh dan dia bekerja mengurus kebersihan Masjid kampungnya hanya untuk mendapatkan uang penghidupan diri dan neneknya dulu. Sampai akhirnya, ketika neneknya sudah tiada, dia tinggal di panti, lalu diambil sebagai anak angkat dari sepasang suami istri mapan. Dia sudah menemukan kebahagiaan, karena dia menguatkan diri. Itu tertanda, aku harus begitu juga.

Aku ini apa. Perempuan yang bahkan masih lebih beruntung dari Raisa. Aku ini orang yang mampu, bahkan pekerjaan ini tidak memberikan gaji yang sedikit. Tapi, hanya karena sebuah kepulangan bertubi saja aku begitu terpuruk dan membenci Tuhanku. Padahal setiap manusia pasti mati, lalu abadi. Seperti apa yang pernah ayah bilang. Kesedihan tidak abadi, tapi kita yang abadi. Aku malu, sungguh! Gadis remaja ini menamparku dengan sejuta kalimat halus, namun mengena perasaan. Aku kembali berair mata. Ada anak setegar dan sedewasa ini. Kadang yang dewasa malah tak menyadari akan kedewasaannya. Gadis itu tercengang melihatku menangis. Tatapan matanya seolah bertanya kenapa. Aku meringis.

“Kakak terharu. Orang tuamu di surga pasti bangga mempunyai anak sepertimu, Nak. Terima kasih sudah menceritakan. Kakak jadi tahu, apa yang harus Kakak lakukan dalam masalah yang kakak punya. Kamu anak yang luar biasa. Tuhan akan selalu menyayangimu. Iya, cinta itu sederhana. Tapi, luar biasa begitu indah jika dilihat orang lain,” kataku sambil sesenggukan. Mungkin ini terlihat berlebihan, tapi aku tidak bisa menahan rasa haru ini. Aku mengizinkan Raisa untuk pulang dan aku akan usahakan yang terbaik untuk menerbitkan bukunya sebagai salah satu buku yang semoga akan memotivasi banyak orang.

            Selepas bekerja, aku mampir sebentar di Masjid dekat kantorku untuk beribadah secara jamaah. Kembali kepada Tuhan. Mengerahkan seluruh cinta dalam kekhusyukkan batinku. Hanya untuk-Nya. Aku masih punya Dia. Aku yakin, Tuhan selalu mendengar doaku. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sampai ganti kebahagiaan itu hadir. Menunggu memang membosankan. Tapi buahnya, sangat manis. Aku bersabar. Selalu.

Usai berdoa dalam salatku, aku baru sadar kalau orang-orang sudah nampak lengang. Hanya beberapa gelintir manusia yang baru saja menyelesaikan doanya, termasuk aku, dan bahkan imam salatnya sendiri masih ada disana. Aku melepas mukena di tempat. Setelah melipat dan akan mengembalikan kain itu pada tempatnya, langkahku terhenti dan pandanganku tertuju pada sesuatu yang tidak asing bagiku dan sosoknya ada di depanku dalam jarak yang hampir dekat. Mata kami bertemu untuk yang ketiga kalinya.

Kulihat keningnya mengerut, seolah berpikir keras untuk mengingat sesuatu. Perlahan pula wujud muka itu kembali terbentuk dalam benakku. Perlahan aku juga mulai mengingat. Ya Allah… aku tidak mampu berkata-kata atas segala pertemuan ini. Maha karya-Mu begitu indah. Sampai membuat debaran hatiku kembali muncul. Aku tidak pernah melupakannya bahwa aku pernah mencintainya.

“Kamu, perempuan dari Jakarta yang pernah studi banding di SMA yang ada di Jawa Tengah itu kan?” tanyanya dengan pasti.

Aku tersenyum malu, lalu mengangguk, “Ya. Kamu benar.”

“Masih ingat saya?”

“Tentu.”

“Apa kabarmu?”

“Alhamdulillah…”

Jujur, aku tidak bisa menahan senyumku, saking bahagianya. Aku tidak tahu apa yang lelaki itu pikirkan, tapi dia juga tersenyum melihatku. Mungkin karena dia memang seorang yang ramah.

“Boleh aku berbicara sebentar di luar?”

“Oh, boleh-boleh!” jawabku dengan antusias. Cepat aku bergerak untuk meletakkan mukena, setelah itu aku menyusulnya keluar masjid.

“Bagaimana?” tanyaku pada lelaki itu, “Oh ya, kamu kok bisa ada disini?”

“Aku dipanggil untuk mengisi materi acara kajian akbar Rohis di SMA Mandala itu sebelah. Jadi aku datang kesini. Kebetulan ada masjid, jadi sebelum balik ke Jawa, salat dulu.”

Aku mengangguk-angguk paham, “Oh… tadi mau bicara apa?”, tanyaku dengan hati-hati.

“Nama kamu siapa?”

“Sa-ya? Saya Mita Lastika. Hehe. Panggil saja Mita. Kamu?”

“Iya, perkenalkan, saya Alwi Arrasyid. Panggil saja Alwi.” lelaki itu mengatupkan tangan di depan dada sebagai ganti salam.

“Oh, ya. Lalu?”

“Kamu sudah menikah?”

Deg.

“Belum. Ke- kenapa?” tanyaku, sok santai.

Pertanyaan macam apa itu yang langsung ke inti? Tidak usah ditanyakan lagi. Aku tercengang dan jengah. Dia melihat perubahan wajahku yang nampak begitu terkejut akibat pertanyaannya.

“Eee… maaf kalau saya langsung ke inti. Saya hanya sedang mencari istri. Tetapi orang yang saya suka sudah menikah dengan lelaki lain. Saya terlambat. Ah, tepatnya belum berjodoh. Sementara orang tua selalu meminta saya untuk terus mencari. Kebetulan, tadi saya berdoa selepas salat agar Allah hadirkan seseorang lagi dalam hidup saya. Dan saya menemukan kamu. Saya tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi. Dan jujur saja saya pernah menyukai kamu dulu. Meskipun rasa suka itu muncul dengan sangat sederhana. Bertemu sekilas. Em… jadi, saya ingin meminang kamu. Bolehkah? ”

Aku menahan napas sejenak, “Emm…,” membuang napas, “Ya, aku bersedia.”

Lagi, airku jatuh dari pelupuk mata tanpa izin. Ah, memalukan. Aku meringis, malu. Dia nampak terkejut melihatku menangis. Tapi, dia pasti paham ini tangis macam apa. Baiklah, aku memang tidak bisa menahan kebahagiaan ini. Tuhan memang selalu tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan dua hati menjadi satu. Tuhan mendengar doaku.

Hidup. Ia bisa menjadi luka, namun juga bisa menjadi bahagia. Seribu satu alasan dalam setiap luka, hanyalah sebuah sanksi untuk mempertahankan keinginan. Namun nyatanya takdir tidak bisa kita tolak. Merutukinya dan menyalahkan Tuhan hanya akan menelangsakan diri sendiri, juga merupakan suatu tindakan yang tidak bijak. Sementara menerimanya akan membuka banyak kesempatan untuk berbahagia. Ada saatnya setiap manusia berbahagia, ada saatnya pula manusia berduka. Itu barulah namanya manusia yang hidup.

Hidup memang seperti air. Mengalir tanpa peduli ia kemana. Manusia bisa mengarahkannya dengan kehendaknya agar tidak tercemar di dalam kubangan air yang keruh, tapi menyatukan diri dengan air yang bersih. Walaupun tak sepenuhnya bersih. Karena manusia tempatnya salah. Tidak ada yang sempurna. Menjaga kemurnian airnya, seperti menjaga hati setiap pribadi masing-masing. Apabila terlanjur keruh, kita bisa menfiltrasi, seperti mensucikan kembali hati kita lewat doa dan rasa syukur. Keangkuhan diri yang membatu di dalam hati ini telah hancur saat hatiku mulai merasa ikhlas, yang kemudian membuat terciptanya air dari celah pelupuk mataku. Air mata.

 

TAMAT

Yogyakarta, 30 November 2016.
Haricahayabulan

(Diikutkan dalam event “Amazing Orange” milad ke-56 UAD Yogyakarta tahun 2016 dan telah meraih juara 3).

Inong Balee

: Keumalahayati

Telah tumpah harum setia
Pada bangsa dan cinta
Mereka tak jera
Mengusik damai tanah pertiwi
Mengambil pusaka tanah kami

Mohon sultan bentuk armada
Dan jadilah dia,
Laksamana wanita pertama

Memimpin luas bahari
Dengan kobar cinta dalam dada
Dilindunginya Selat Malaka

Gugur kekasih sebab musuh
Keluasan jagat perlu tahu
Air mata wanita adalah api
Membakar tebas zaman
Keumalahayati

Yogyakarta, 17 Oktober 2016.
Haricahayabulan

Membunuh Harimau

Membunuh itu dilarang
Tapi yang buas di hutan
Merusak desa, membuat sengsara
Karena nyawa, manusia berlindung
Menyebut Tuhan adalah jawaban

Membunuh itu wajib
Karena yang buas, merusak hati
Orang takut, menyumpahi
Manusia mesti berjaga
Menyebut Tuhan adalah jawaban

Yogyakarta, 3 September 2016.
Haricahayabulan

Para Pemburu

Oleh: Agus Noor

Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami me­man­dangi­nya dengan gamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri, ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beri­stirahat di pinggir telaga itu, hanyut oleh pikiran kami. Mele­takkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak.

Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, se­belum sampai ke telaga ini. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengala­man kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami tetap saja melenggang bebas. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hi­dup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal mem­buru sesuatu. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Telah kami sibak semua palung lautan. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung.

Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan bina­tang buruan. Kami tak pernah ter­go­­da menjadi petani atau peda­gang. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seor­ang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-ce­rita penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh da­lam kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam be­lu­kar. Kami sudah tahu bagai­ma­­na menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kan­dung­an. Kami mengembara dari satu benua ke benua lain­nya, untuk memburu bina­tang-binatang, bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hi­dup, tetapi lebih untuk ke­bang­ga­an dan kehormatan.

Sampai kemudian kami me­nyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-lahan telah habis kami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, bina­tang-binatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi, begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunu­hi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamn­ya. Sampai kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun ke tahun, jumlah kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir, sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 ta­hun, tetapi masih sanggup berlari mengejar antelope, kemudian menghan­tam kepala binatang itu dengan kepalan tangan, hingga pecah berantakan. Dan itulah kehormatan.

Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti kami ka­takan tadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh.

“Perburuan tak mungkin berhenti!”

“Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!”

“Takdir tak bisa dihentikan.”

“Lantas bagaimana?”

“Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!”

“Memburu apa?”

Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian ter­lontar. Kami akan memburu manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri. Me­reka kami lepas ke tengah hu­tan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru kemudian kami memburu mereka. Itu men­jadikan kami begitu ba­ha­gia. Bahkan membuat kami le­bih merasa sempurna sebagai pem­buru. Memburu budak-bu­dak itu lebih mengasyikkan da­ri­pada memburu binatang. Me­re­ka lebih menantang untuk ka­mi tak­luk­kan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka de­ngan perburuan macam itu. Lan­­­tas, perlahan-lahan, kebia­sa­an baru tumbuh dalam ke­hi­dupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang, tapi manusia. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan, “Masuk­lah dalam hutan, lari. Selamatkan kehidupanmu. Ja­ngan cemas, meski kami akan memburu kalian, ka­lian masih punya kesempatan untuk memper­panjang kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baik bagi kalian, daripada ma­ti di tiang gantun­gan: tak lagi punya pilihan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Ang­gap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik ber­sama kalian… .”

Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upa­cara kehor­matan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang sesungguhnya, yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pe­saki­tan. Adakah yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh, sasaran perburuan yang meng­gai­rahkan.

Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan per­main­an semacam itu. Ketika kisah-kisah kami men­jalar ke banyak negara, banyak orang di luar suku ka­­mi, mendatangi kami, untuk ikut menikmati per­bu­ruan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal itu dianggap akan mengotori ke­murnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa menolak, ketika dari banyak yang datang kepada ka­mi itu adalah para jenderal, orang-orang besar di negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para bangsawan dan pengusaha besar. Para bangsawan, yang memang memiliki ke­­bia­saan berburu se­per­ti kami dan memiliki la­han-lahan perburuan yang luas, mengijinkan tem­pat-tem­pat itu untuk kami kelola dan kem­bang­kan sebagai ladang perburuan yang le­bih me­nan­­tang dan menye­nang­kan. Bahkan mereka men­­­janjikan kami lahan-lahan perburuan yang le­bih luas. Para jen­deral me­nyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensub­sidi kami modal bermilyar-milyar. Para raja dan ke­pa­la negara mem­per­silah­kan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Kami tak hanya punya ke­sem­patan memburu para penjahat yang telah di­vo­nis mati, tetapi kami bebas memilih siapa pun yang pa­ling menyenangkan ka­mi buru. Malah sering para raja dan kepala negara mem­­beri kemudahan ka­mi dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai, para de­mons­tran untuk kami habisi. Juga kaum intelektual yang se­lama ini mereka benci. Ah, begitu melimpah bu­ruan kami.

Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta.

“Ini darah seorang penyair untukmu, jangan se­dih… .” Gelas kami beradu, dan kami tertawa ba­hagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-puji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung!

Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan gelombang, meng­gu­lung apa pun yang kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan, tetapi juga, terkadang, keisengan. Ka­mi, yang telah menjadi se­ke­lompok pemburu yang pa­ling kuat, dengan du­kun­gan dana yang me­lim­pah, pasokan senjata yang bagai anggur mengalir da­lam ge­las-gelas kami, men­­jadi tak tertandingi. Kami ber­diri di puncak menara per­adaban, sendiri. Itu se­ring membuat kami ter­usik sunyi. Apakah arti ke­kuat­an bila tak ada tan­tangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup me­la­wan kami. Ketika ka­mi menjarah perem­puan dan membunuhi anak-anak, ketika kami mem­bu­ru ri­buan orang Yahudi un­tuk kami kirim ke kamp kon­sen­trasi, ketika kami me­nem­ba­ki anak-anak Pa­­lestina, ketika kami mem­­­­buru dan membantai       orang-orang muslim di Bos­­nia, ketika kami me­ngirim pasukan pem­bu­ru ke ba­nyak negara untuk me­luluhlantakkan apa sa­ja, tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami, sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami terus memburu, kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman, melintasi gelombang waktu, menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan, tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan yang membosankan. Karena kami sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepadan. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan.

“Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Jangan biar­kan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini.”

Lalu seseorang yang paling tua di antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun lebih, menyaran­kan kami agar mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.

“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?”

“Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebe­lum maut menjemputku, aku ingin menikmati per­bu­ruan yang paling menggair­ahkan.”

“Apa hubungannya dengan para kiai itu?”

“Kumpulkan mereka, dari seluruh dunia. Suruh mereka menye­diakan malaikat untuk kita buru!”

Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami mengge­lembungkan jiwa pemburu kami. Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami tak memburu malaikat?

“Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!”

“Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersu­lang, me­nyam­but hari depan kami yang gi­lang gemilang. Panji per­bu­ruan berkibar. Kami segera meng­himpun topan. Kami se­gera menge­luarkan selu­ruh senjata kami. Dan tentu, kami segera mengumpulkan para kiai. Mereka kami da­tang­kan dari semua penjuru, kalau perlu dengan paksa dan kekerasan.

“Kami ingin Jibril,” kata ka­mi kepada mereka. “Kami tak mau tahu, bagaimana ca­ra kalian mendatangkan Jib­ril bagi kami. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan kepada kami, kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?”

Kami tatap wajah para kiai itu, mencari kepastian dalam mata mereka.

“Baiklah,” tegas kami, “kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa men­da­tang­kan Jibril bagi kami, kami akan membikin per­hi­tungan sendiri… .”

Mereka, para kiai itu, kami giring ke sebuah ista­na kami yang paling megah. Tetapi mereka menolak, dan meminta kami untuk membawa mereka ke se­buah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di ping­gir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesung­guhnya heran. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih dari lima kali li­ma tombak. Bagaimana tempat sekecil itu me­nam­pung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.

“Kalian jangan bercanda!” teriak kami.

“Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril.”

“Baiklah… .”

Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat kami begitu ternganga, ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid, tetapi masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok mengikuti gigir bukit, seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang, itu pun pasti sudah ber­himpitan, bagaimana mung­kin? Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai ke­mu­dian semua kiai telah ma­suk dalam masjid itu. Dan ka­mi mendengar gema dzikir dari dalam sana, mengalun menidurkan rerumputan, se­pan­jang hari sepanjang malam. Gema itu melam­bung, menyentuh langit. Ka­dang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Se­perti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun yang mel­ayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami me­ma­garbetis masjid itu, tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kami tak mau ditipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berja­ga, takut me­re­ka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.

Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami cemas, sekaligus ma­rah, ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat ka­mi tambah cemas menunggu, kemudian kembali me­ngirim utusan untuk menemui para kiai di dalam mas­jid itu. Tetapi seperti yang perta­ma, orang kedua kami pun tak kembali. Kami panggil namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali, mem­­­­per­ingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti yang pertama dan kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai, tak pernah muncul kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar, tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya pengertian, bukan?

Jangan salahkan kami. Dan kami segera me­nyer­bu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar biasa, semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain, tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemara­han kami menyalakan api di tangan, berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid itu, hingga kayu-kayu ber­ge­me­re­takan, dan api melahap cepat, membumbung.

Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.

Pada saat itulah, seseorang di antara kami ber­te­riak, mem­buat kami tengadah ke puncak api. Dan, ya Allah, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya menatap kami, dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semes­ta.

“Jibril!!”

“Jibril!!”

Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?

“Buru!”

Teriakan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong begitu? Maka, dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tom­bak, anak panah, desing senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat ca­ha­ya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.

“Kejar!”

Kami pun melesat, mengejar Jibril. Bertahun-ta­hun kami memburu. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri, membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Inilah per­buruan paling menakjubkan bagi kami. Setelah ber­abad-abad kami hidup sebagai pemburu, setelah ber­ma­cam pengalaman perburuan membuat kami jadi pem­buru sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya per­bu­ruan yang sejati. Tombak terus beterbangan, roket te­rus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami ren­tangkan, ranjau-ranjau telah kami tanam, perang­kap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril. Inilah buruan kami yang abadi. Ke mana pun Jibril melesat, kami memburunya.

Sam­pai kami tiba di pinggir telaga ini, yang me­nyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari kami ki­ni benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat, hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat me­ngu­bur­kan­nya. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau kehilangan jejak. Dan memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.

“Ke sana!” seseorang dari kami berteriak, dan lang­sung mele­sat. Di seberang telaga sana, kami melihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap ca­ha­ya-Nya.

Ma­ka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur, melanjutkan pem­buruan abadi kami.***

 

Yogyakarta, 1995-1998

(Dongeng Buat Mas Danarto)

 

(Dimuat dalam Horison, Januari 2000)