Air

Kepulangan selalu diserta aroma duka, sebab angin dan sepi yang kita bawa. Bunga-bunga menabur cinta pada selimut persinggahan. Hujan tanpa reda, dikirim jadi ganti air yang mengalir melalui celah pelupuk mata. Tanpa terasa waktu bergerak begitu cepat. Menguak peristiwa demi peristiwa yang tidak dapat aku mengelak. Salah satunya adalah kepergian. Kehidupan memang telah membuat aku bahagia, namun disaat yang sama, ia merenggut satu persatu manusia yang berarti dan kucinta dalam hidupku. Tanpa peduli bahwa hatiku akan sedih dan sendiri.

“Yang tabah Mita… semua akan ada gantinya. Percayalah…,” kata Nada yang baru saja menyudahi pelukannya dari tubuhku.

“Sabar Ta, kamu tidak sendiri,” kata Lula sambil mengusap pundak kiriku.

“Sabar Nduk, jangan diratapi. Jangan terlalu dibawa hati. Relakan agar ayahmu tenang disana,” kata Tante Tisha sambil mengusap belakang kerudungku. Tante Tisha adalah saudara jauhku. Kami tidak mempunyai ikatan darah. Tapi, keluarga kami memang dekat, meskipun kota kami berbeda. Sementara Nada dan Lula adalah teman-temanku yang masih sering aku temui di antara kehidupanku sekarang.

Kudengar semua kata-kata mereka. Tapi, hatiku terlanjur perih dan aku biarkan diriku dengan pikiranku sendiri. Kenapa Tuhan mengambil mereka, orang-orang yang kucinta? Kenapa bukan aku saja! Aku merutuki diri sendiri dan benci pada hidupku.

Dulu ketika detik aku baru saja lahir, beberapa detik kemudian bunda tiada. Sepanjang setelah kejadian itu dan aku beranjak menjadi anak yang bisa berpikir, serta mampu mengenal rindu, aku hanya bisa haus rindu pada bunda tanpa pernah bertemu di dunia tempatku bersinggah ini. Sesekali aku benar-benar haus, sampai aku harus mengeluarkan airku sendiri dari pelupuk mata. Tapi, ayah menyeka. Sebab kesedihan katanya tidak abadi. Yang abadi adalah kita. Lalu bagaimana caraku menyampaikan rindu karena cintaku pada bunda?

Ayah bercerita bahwa dia selalu setia pada bunda, karena dia cinta. Katanya, cinta itu sederhana. Selain harus saling memahami, mendoakan kepada yang dicinta setelah sujud terakhir adalah cara menyampaikan bentuk cinta diam-diam yang lebih baik daripada yang lain. Entah itu kepada yang telah tiada atau yang masih ada. Aku percaya. Kemudian aku melakukan hal yang sama dalam mencinta. Entah itu kepada bunda, ayah, dan teman-teman terbaikku.

Bersama waktu aku melangkah. Aku menapaki masa remaja, lalu mulai terpikat dengan lelaki. Bukan hanya sekali, dua kali aku terpikat dengan lelaki, tapi berkali-kali. Sampai jantungku bahkan pernah berdebar hebat akibat sesuatu yang tidak biasa aku rasakan. Kata teman-teman, itu namanya jatuh cinta. Aku bertanya-tanya. Apa bedanya cintaku pada ayah dengan cintaku pada lawan jenis? Aku mendapatkan jawaban sederhana bahwa cintaku kepada ayah adalah bentuk bakti cinta kepada orang tua yang tidak akan pernah putus sepanjang masa, sedangkan cintaku kepada lawan jenis adalah cinta yang menunjukkan bahwa aku ini perempuan normal, dimana kodratnya laki-laki dan perempuan adalah pasangan.

Dari sekian banyak lelaki, yang terakhir aku suka dengan sangat tidak diduga-duga, ternyata dia menyukaiku juga. Namanya Bara. Dia mendekat, menyatakan cinta, menawarkan diri untuk menjadi kekasihku. Aku terpesona dengan cumbu rayu dan janji manisnya. Sampai aku lupa diri, karena terlalu jatuh jauh di dalam sana. Sebelum adanya peristiwa ini, ayah sempat berpesan padaku untuk tidak mendekati lelaki semacam itu, karena lelaki semacam itu hanya akan merugikanku dengan menyentuhku, melenakan dengan pandangan, dan hati. Maka, semua itu menjadi sebab adanya mendekati zina. Tapi, aku menerima Bara sebagai kekasihku secara diam-diam. Sebab aku percaya bahwa dia lelaki yang baik.

Seminggu bersama, tanda-tanda tentang ungkapan ayah benar terjadi. Bara berani menyentuhku sesuka hatinya dan bagian mana yang ia suka. Tanpa sadar, ia juga membuatku lena pada pesonanya, sementara aku perlahan sering menentang ayah hanya untuk dapat bersama Bara. Cepat aku sadar bahwa aku terpedaya dengan politik cintanya. Aku memutuskan atas kehendakku sendiri untuk menjaga kehormatanku sebagai perempuan. Dosa terbesar dalam hidupku yang mana aku belum sempat jujur pada ayah bahwa aku membohonginya soal pacaran dengan Bara sampai sekarang dan aku menyesal. Sungguh.

Lama aku mati rasa soal perkara wangi bau hati. Tiga tahun kiranya setelah pacar pertamaku itu. Sampailah aku pada usia 17 tahun. Dimana titik temu jatuh cinta itu kembali muncul karena seseorang. Munculnya cinta seringkali tidak mengenal tempat, waktu, dan alasan. Begitu pula cintaku pada lelaki itu. Kami hanyalah dua manusia yang tidak saling mengenal. beda sekolah, dan beda kota. Kami bertemu saat organisasi di SMA-ku mengadakan study banding di SMA yang ada di Jawa Tengah. Sementara aku berasal dari Jakarta. Begitu terbayang seberapa jauhnya.

Sederhana saja, benih-benih cinta itu muncul hanya dalam dua kali tatap, dimana dia dan aku saling bertukar senyum saat kami berpapasan di saat masuk ruang aula sekolahnya. Aku keluar, dia masuk ruangan, dan dimana ketika dia menyelesaikan tilawatil Qurannya sebagai pembuka acara kedatangan sekolahku di SMA-nya.

Sesederhana itu aku jatuh cinta kepadanya. Tapi, mustahil bagiku untuk kembali bertemu dengannya lagi. Mengingat jarak dan setelah kejadian itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Akupun hampir melupakan wujud wajahnya. Tapi, aku selalu ingat bahwa aku pernah jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta yang kurasa hanya sekilas, tanpa ada arti penting apa-apa di dalamnya. Aku sempat berdoa agar kami dapat bertemu lagi. Tapi, entahlah. Hidup kadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Aku menyudahi untuk mengingat lelaki itu, meskipun kadang-kadang aku masih merasa ingin bertemu lagi. Cepat aku sadar. Dia semu.

Aku semakin dewasa, kuliah, kembali mengenal cinta yang lain pada lelaki bernama Hasan, lalu kami wisuda dalam waktu yang sama, dan aku bekerja dengan profesi asisten dosen. Meskipun kami beda jurusan, akan tetapi satu fakultas. Kami saling mengenal baik, karena kami satu organisasi. Dia melamarku, aku menerima meskipun rasaku padanya hanya rasa suka sebagai seorang sahabat. Tapi ini merupakan kesempatan yang tidak bisa aku tolak. Karena hidup tidak bisa direka-reka tentang kapan akan menghadirkan lelaki seperti Hasan lagi. Ayah setuju. Acara lamaran kami berjalan lancar. Rencana pernikahan kami bulan depan. Kami semua sudah merancang dengan sangat apik. Aku pun pelan-pelan belajar mencintainya. Sampai suatu peristiwa menimpaku sebelum bulan pernikahan kami tiba.

Sepulang kerja dengan mengendarai motor, kendaraanku oleng, sampai akibatnya aku menabrak mobil. Aku tergelepar cukup jauh dan pandanganku kabur. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Saat aku bangun, aku merasa ada yang berbeda. Kaki kiri dan tangan kiriku mati rasa. Sama sekali aku tidak bisa menggerakkan keduanya. Ayah bilang, karena patah tulang. Maka, aku harus dengan lapang merasakan kelumpuhan dalam jangka waktu sementara, tapi tentunya kesembuhan itu akan lama datangnya.

Disaat yang sama, bunda Hasan tidak terima dan tidak mau memiliki calon menantu yang patah tulang sepertiku. Secara terang-terangan Ibu Hasan menyindirku, karena kekecewaannya atas keadaan diriku. Dari situ aku tahu bahwa ternyata Ibu dari Hasan memanglah orang yang sulit menerima keadaan yang tidak membuatnya nyaman. Dia bilang bahwa dia tidak mau anaknya repot mengatur kondisiku, tidak mau anaknya mempunyai istri yang patah tulang sampai tidak bisa mengurus rumah tangga, dan lain sebagainya. Kemudian, aku harus merelakan kepergian seseorang yang kucinta dalam hidupku lagi setelah bunda. Aku melepas cincin lamaran ini, karena ketidakrelaan ibu dari Hasan akibat kondisiku. Hasan teramat kecewa dengan sikap ibunya. Tapi, daripada menjalani hubungan yang tidak diridai adalah perkara yang kurang apik, maka Hasan dan aku tidak melanjutkan ke posisi pernikahan. Kami berhenti. Hasan menikah dengan perempuan lain. Aku turut bahagia. Meskipun hati ini tercabik oleh luka dan airku kembali mengalir dari pelupuk mataku menuju ke pipi, lalu jatuh. Jatuh yang menyakiti.

Aku menjadi sepi dalam menjalani hari-hariku. Aku ingin libur dengan perkara cinta. Tapi, ayah mengingatkan untuk tetap lapang dan merelakan. Begitu terus sejak aku kecil sampai sekarang. Ayah memintaku untuk mengalah, merelakan, dan lapang, juga terus berdoa kepada Tuhan untuk diberikan yang terbaik. Sampai aku bosan. Tapi aku berpikir. Aku masih punya ayah. Aku kembali melakukan hal yang sama sesuai permintaan ayah. Aku memang telah bekerja, tapi pekerjaanku menjadi asisten dosen itu hanya menggantikan posisi tetanggaku yang tengah melanjutkan studi S3 di luar negeri. Setelah ia lulus, aku berhenti. Giliran aku untuk melanjutkan studi S2. Dua tahun aku menyelesaikan masa S2-ku. Sebenarnya aku kembali diminta untuk mengajar, namun itu bukan cita-citaku. Aku kembali mencari pekerjaan sesuai cita-citaku sebagai salah satu editor di sebuah perusahaan penerbitan buku. Aku diterima dan menetap disana. Aku bahagia dengan pekerjaanku dan aku kembali tenang dan bahagia dengan hidupku, tanpa perlu mengingat masa lalu.

Suatu peristiwa soal kepergian kembali terjadi setelah 1 tahun kemudian. Saat ini, sekarang. Di tempat aku berpijak ini. Bersama orang-orang yang tengah berduka dan beberapa diantaranya sama-sama berair pilu sepertiku. Tapi tentu saja, hanya aku yang paling pilu. Ayahku, tiada. Tiada bukan karena sakit, bukan juga karena kecelakaan. Tuhan memang berkehendak. Ayahku yang senja karena usia lanjutnya. Dia hanya duduk terpejam di sebuah kursi goyang dan pejaman itu tidak pernah terbuka lagi tanpa aku tahu kapan itu semua bermula. Setahuku ayah hanya sedang duduk begitu damai disana. Kursi goyang itu adalah saksi bisu atas kematian ayahku.

Sekarang aku benar-benar sendiri. Sebatang kara. Tiada lagi sosok tercinta yang mendampingiku. Aku harus bagaimana? Mengalah, merelakan, dan lapang lagi? Berdoa agar diberi gantinya lagi? Hatiku sedih, perih, dan sendiri. Aku bosan menjadi lemah! Tapi, aku juga tidak kuasa untuk menjadi kuat. Aku ini apa? Siapa? Aku kehilangan semuanya! Diri ini merapuh. Aku lelah dengan semua ini. Aku benci. Aku merasa doaku tidak pernah didengar. Aku putus asa. Tante Tisha membawaku pulang setelah pemakaman ayah, karena merasa kondisiku benar-benar hancur.

“Tante akan tinggal bersamamu dalam sementara waktu untuk temani kamu, ya,” ucap Tante Tisha kepadaku yang masih merangkulku sejak dari dalam mobil.

Aku hanya mengangguk lesu, tapi tentu tante tahu kalau aku sedang tidak punya rasa untuk bicara. Tante Tisha benar tinggal sementara waktu di rumah untuk menemani sampai aku benar-benar merasa tenang. Satu minggu Tante Tisha tinggal. Setelah itu aku kembali dengan pekerjaanku dan dia kembali pula dengan pekerjaannya.

            Sudah berbulan-bulan aku kembali bekerja. Tapi, aku selalu merasa lesu dan kurang bersemangat dalam menjalani hari, meskipun aku sudah tidak lagi sehancur dahulu. Kehilangan membuatku juga sedikit hilang dalam merasa. Aku sedikit merasa mati. Hidup rasanya kelabu dan tidak lagi membuatku tertarik. Tapi, aku tidak mau mati. Karena kematian juga tidak menjawab apa-apa. Apakah aku kurang mengikhlaskan hidupku? Atau apa? Ah, entahlah. Aku hanya menjalani semampuku dan yang penting aku sudah mengalah, merelakan, dan lapang atas kepergian ayah. Suara ketukan pintu ruangan kantor dari luar telah membuyarkan lamunanku.

“Masuk!” teriakku dari dalam.

Dibukanya pintu itu dan muncullah seorang perempuan muda yang masih remaja. Gadis itu menutup pintu kantor kembali, lalu mengulum senyum simpul kepadaku dan aku membalasnya. Aku memintanya untuk duduk. Ah, gadis ini mengingatkan aku tentang masa muda remajaku dimana gairah akan rasa cinta masih mengalir begitu deras. Nama gadis itu Raisa.

“Ada keperluan apa?” tanyaku dengan ramah.

“Loh, kemarin kan Kak Mita meminta saya untuk datang dan membahas mengenai buku karya saya?”

Pikiranku sedang agak buntu, “Bu-ku? Buku yang mana?”

“Buku yang judulnya Dalam Doaku karya Raisa Fernandita. Wah, Kakak banyak kerjaan ya, jadi lupa. Hehe,” gadis itu menyeriangi canda.

Mendengar penjelasan itu aku baru teringat kalau kemarin malam kami memang sudah berjanji untuk bertemu. Aku meringis. Sedikit merasa bersalah karena nyaris melupakan temu janji kepada penulis muda satu ini. Aku mengambil naskah miliknya. Tujuanku meminta untuk bertemu adalah agar dia merivisi tulisannya dan menunjukkan letak-letak yang harus direvisi. Sesekali dia mengangguk mengerti atau menjawab ya saat aku jelaskan. Atau sesekali dia bertanya, karena tidak mengerti. Aku berbicara dengan kadar bahasa tingkat anak agar dia mampu memahami pembicaraanku.

“Saya senang dengan ide tulisan kamu. Terasa nyata, karena sebagian dari isi tulisan kamu mengingatkan saya kepada ayah dan bunda saya,” kataku kepada Raisa dengan senyum dan tatapan lurus, namun pikiranku mengawang akan sosok wajah ayah. “Buku kamu ini sangat memotivasi. Saya suka dan sangat mengahargai karya ini. Sungguh. Darimana ide kamu ini muncul? Boleh Kakak dengar ceritanya?”

“Wah terima kasih, Kak, atas pujiannya. Tapi, tulisan saya itu belum apa-apa. Sebenarnya pula, kisah dari cerita itu semua adalah curahan hati saya yang memang nyata dan hanya bisa saya baca sendiri tadinya. Novel itu sangat sederhana sekali, Kak, buat saya. Saya merasa senang ketika Kak Mita mau menerbitkan buku saya dan mempercayai bahwa buku itu mampu memberi motivasi. Dengan begitu, orang lain bisa membaca dan merasakan apa yang saya rasakan. Tapi tentunya, saya tidak bisa memberikan sebuah keluh kesah saja dalam cerita tanpa ada penyelesaiannya. Buku saya tentu tidak akan berarti jika hanya saya isi dengan keluh kesah dan penyelesaian yang asal-asalan. Maka, saya ingin membuat sebuah kepercayaan yang nyata dan benar terjadi agar pembaca mampu merenungkan dari apa yang saya rasakan.

Sebagai penulis, saya jadi terpacu untuk memulai dari diri saya sendiri. Mencoba keluar dari zona keterpurukan menuju sebuah pengikhlasan yang sebenar-benarnya. Seperti apa yang saya ceritakan dalam novel saya. Saya yatim piatu. Bahkan saya belum pernah sekalipun melihat kedua orang tua saya seperti apa. Saya merasa sangat marah kepada Tuhan. Karena saya merasa Tuhan tidak adil. Tapi itu terasa tidak penting lagi setelah kemarahan saya nyatanya tidak menghasilkan apa-apa dan malah membuat hidup saya semakin buruk.

Saya mencari tahu apa yang tidak saya tahu sampai saya menjadi tahu. Saya melakukan kegiatan yang saya senangi. Menulis dan membaca. Saya mulai merasa hidup dengan hobi itu. Tapi saya tidak pernah bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam cerita tersebut. Saya selalu merasa kesal dan marah. Tapi, saya terus berpikir dan merenung. Saya sangat ingin bisa menyelesaikan cerita-cerita saya.

Lalu saya mulai dengan perbaikan diri secara pribadi. Mencari-cari kesalahan dalam diri saya, lalu bertanya-tanya kepada yang lebih mengerti untuk memperbaikinya. Karena saya niat, saya mulai dari nol. Saya baru sadar, bahwa saya ini adalah orang yang kurang bersyukur. Justru saya yang tidak adil dengan Tuhan. Dari hal-hal kecil saja. Dia masih memberi saya napas, tubuh sempurna, badan yang sehat, otak yang pintar, rumah untuk singgah, nenek yang menemani, dan teman-teman, juga guru yang menyayangi saya. Padahal diluar sana, masih begitu banyak anak yang bahkan cacat fisik, hidup di jalanan tidak terurus, dan masih banyak lagi ujian-ujian mereka. Dari situ saya sadar. Saya jahat kepada Tuhan. Dari kesalahan-kesalahan tersebut saya memperbaiki diri dan mulai menguatkan diri.

Kekuatan saya untuk menjadi lebih baik juga menjadi kekuatan saya untuk merampungkan masalah-masalah yang ada pada novel saya. Secara tidak sengaja, ternyata saya telah menyelesaikan masalah nyata dalam hidup saya sendiri. Saya selalu yakin, bahwa Tuhan selalu ada di setiap langkah saya sebagai kekuatan saya. Meskipun hidup saya tidak seberuntng teman-teman di luar sana. Saya merasa Tuhan menyayangi saya. Karena kesempatan untuk menerbitkan buku dan dibaca oleh banyak orang bukanlah hal yang mudah untuk teman-teman saya yang beruntung untuk mereka dapatkan juga. Semua sudah ada bagiannya dan saya merasa diamanahi oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan yang baik dalam buku yang saya buat. Maka, saya ingin menjaga amanah-amanah itu dengan tidak memihak, tapi dimulai dari diri saya sendiri.

Ternyata, suatu peristiwa hampir menjatuhkan aku lagi. Nenek meninggal, karena memang sudah waktunya. Lalu aku tinggal dengan siapa, kala itu aku benar-benar tidak tahu dan bingung. Kembali aku marah kepada Tuhan, karena Dia mengambil nenek. Tapi cepat aku sadar bahwa setiap manusia pasti mati. Kelak aku pun juga, aku kembali menetralkan diri, dan tidak marah lagi pada Tuhan. Aku berdoa dan terus berdoa agar Tuhan memberikan bantuan. Tanpa diduga, Tuhan menjawabnya. Aku dibawa ke Panti Asuhan dan menemukan banyak sekali anak yang mempunyai macam-macam cerita soal orang tua dan hidupnya. Bukan hanya aku yang mempunyai ujian berat. Bukan hanya aku yang punya luka. Semua orang pernah dan ada bagiannya sendiri-sendiri. Semenjak itu, kecintaanku pada Tuhan semakin aku kuatkan. Doaku adalah kekuatanku. Maka saya beri judul buku itu Dalam doaku. Sekarang, saya diambil menjadi anak dari kedua orang tua yang mampu. Semua kebahagiaan ada waktunya. Tuhan selalu tahu waktu yang tepat untuk itu. Cinta itu sederhana, Kak. Hanya kita saja yang selalu mempersulit.” jelas Raisa dengan senyum lebar dan semangat mudanya.

Aku tercenung. Ada pesan menohok dalam setiap kalimat yang diucapkan Raisa kepadaku. Aku menjadi marah. Marah kepada diriku sendiri. Ternyata selama ini aku memang tidak pernah mengikhlaskan kenyataan hidupku sendiri? Aku telah menghilangkannya setelah kepergian ayah. Aku melupakan Tuhanku. Syukurku tak lagi hadir untuk Tuhan. Aku lari dari masalah. Aku pengecut. Kekanak-kanakan. Padahal di luar sana masih begitu banyak manusia yang lebih jatuh jauh dalam kepedihan, tapi dia masih berdiri tegar, dan bahkan ingin mewujudkan kemanusiaan yang kuat agar orang-orang diluar sana tidak rapuh, serta kembali kepada jalan yang benar. Itu dia, Raisa. Yang aku tahu bahwa dia dahulu adalah anak remaja yatim piatu sejak kecil dan tinggal bersama seorang nenek yang lumpuh dan dia bekerja mengurus kebersihan Masjid kampungnya hanya untuk mendapatkan uang penghidupan diri dan neneknya dulu. Sampai akhirnya, ketika neneknya sudah tiada, dia tinggal di panti, lalu diambil sebagai anak angkat dari sepasang suami istri mapan. Dia sudah menemukan kebahagiaan, karena dia menguatkan diri. Itu tertanda, aku harus begitu juga.

Aku ini apa. Perempuan yang bahkan masih lebih beruntung dari Raisa. Aku ini orang yang mampu, bahkan pekerjaan ini tidak memberikan gaji yang sedikit. Tapi, hanya karena sebuah kepulangan bertubi saja aku begitu terpuruk dan membenci Tuhanku. Padahal setiap manusia pasti mati, lalu abadi. Seperti apa yang pernah ayah bilang. Kesedihan tidak abadi, tapi kita yang abadi. Aku malu, sungguh! Gadis remaja ini menamparku dengan sejuta kalimat halus, namun mengena perasaan. Aku kembali berair mata. Ada anak setegar dan sedewasa ini. Kadang yang dewasa malah tak menyadari akan kedewasaannya. Gadis itu tercengang melihatku menangis. Tatapan matanya seolah bertanya kenapa. Aku meringis.

“Kakak terharu. Orang tuamu di surga pasti bangga mempunyai anak sepertimu, Nak. Terima kasih sudah menceritakan. Kakak jadi tahu, apa yang harus Kakak lakukan dalam masalah yang kakak punya. Kamu anak yang luar biasa. Tuhan akan selalu menyayangimu. Iya, cinta itu sederhana. Tapi, luar biasa begitu indah jika dilihat orang lain,” kataku sambil sesenggukan. Mungkin ini terlihat berlebihan, tapi aku tidak bisa menahan rasa haru ini. Aku mengizinkan Raisa untuk pulang dan aku akan usahakan yang terbaik untuk menerbitkan bukunya sebagai salah satu buku yang semoga akan memotivasi banyak orang.

            Selepas bekerja, aku mampir sebentar di Masjid dekat kantorku untuk beribadah secara jamaah. Kembali kepada Tuhan. Mengerahkan seluruh cinta dalam kekhusyukkan batinku. Hanya untuk-Nya. Aku masih punya Dia. Aku yakin, Tuhan selalu mendengar doaku. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sampai ganti kebahagiaan itu hadir. Menunggu memang membosankan. Tapi buahnya, sangat manis. Aku bersabar. Selalu.

Usai berdoa dalam salatku, aku baru sadar kalau orang-orang sudah nampak lengang. Hanya beberapa gelintir manusia yang baru saja menyelesaikan doanya, termasuk aku, dan bahkan imam salatnya sendiri masih ada disana. Aku melepas mukena di tempat. Setelah melipat dan akan mengembalikan kain itu pada tempatnya, langkahku terhenti dan pandanganku tertuju pada sesuatu yang tidak asing bagiku dan sosoknya ada di depanku dalam jarak yang hampir dekat. Mata kami bertemu untuk yang ketiga kalinya.

Kulihat keningnya mengerut, seolah berpikir keras untuk mengingat sesuatu. Perlahan pula wujud muka itu kembali terbentuk dalam benakku. Perlahan aku juga mulai mengingat. Ya Allah… aku tidak mampu berkata-kata atas segala pertemuan ini. Maha karya-Mu begitu indah. Sampai membuat debaran hatiku kembali muncul. Aku tidak pernah melupakannya bahwa aku pernah mencintainya.

“Kamu, perempuan dari Jakarta yang pernah studi banding di SMA yang ada di Jawa Tengah itu kan?” tanyanya dengan pasti.

Aku tersenyum malu, lalu mengangguk, “Ya. Kamu benar.”

“Masih ingat saya?”

“Tentu.”

“Apa kabarmu?”

“Alhamdulillah…”

Jujur, aku tidak bisa menahan senyumku, saking bahagianya. Aku tidak tahu apa yang lelaki itu pikirkan, tapi dia juga tersenyum melihatku. Mungkin karena dia memang seorang yang ramah.

“Boleh aku berbicara sebentar di luar?”

“Oh, boleh-boleh!” jawabku dengan antusias. Cepat aku bergerak untuk meletakkan mukena, setelah itu aku menyusulnya keluar masjid.

“Bagaimana?” tanyaku pada lelaki itu, “Oh ya, kamu kok bisa ada disini?”

“Aku dipanggil untuk mengisi materi acara kajian akbar Rohis di SMA Mandala itu sebelah. Jadi aku datang kesini. Kebetulan ada masjid, jadi sebelum balik ke Jawa, salat dulu.”

Aku mengangguk-angguk paham, “Oh… tadi mau bicara apa?”, tanyaku dengan hati-hati.

“Nama kamu siapa?”

“Sa-ya? Saya Mita Lastika. Hehe. Panggil saja Mita. Kamu?”

“Iya, perkenalkan, saya Alwi Arrasyid. Panggil saja Alwi.” lelaki itu mengatupkan tangan di depan dada sebagai ganti salam.

“Oh, ya. Lalu?”

“Kamu sudah menikah?”

Deg.

“Belum. Ke- kenapa?” tanyaku, sok santai.

Pertanyaan macam apa itu yang langsung ke inti? Tidak usah ditanyakan lagi. Aku tercengang dan jengah. Dia melihat perubahan wajahku yang nampak begitu terkejut akibat pertanyaannya.

“Eee… maaf kalau saya langsung ke inti. Saya hanya sedang mencari istri. Tetapi orang yang saya suka sudah menikah dengan lelaki lain. Saya terlambat. Ah, tepatnya belum berjodoh. Sementara orang tua selalu meminta saya untuk terus mencari. Kebetulan, tadi saya berdoa selepas salat agar Allah hadirkan seseorang lagi dalam hidup saya. Dan saya menemukan kamu. Saya tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi. Dan jujur saja saya pernah menyukai kamu dulu. Meskipun rasa suka itu muncul dengan sangat sederhana. Bertemu sekilas. Em… jadi, saya ingin meminang kamu. Bolehkah? ”

Aku menahan napas sejenak, “Emm…,” membuang napas, “Ya, aku bersedia.”

Lagi, airku jatuh dari pelupuk mata tanpa izin. Ah, memalukan. Aku meringis, malu. Dia nampak terkejut melihatku menangis. Tapi, dia pasti paham ini tangis macam apa. Baiklah, aku memang tidak bisa menahan kebahagiaan ini. Tuhan memang selalu tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan dua hati menjadi satu. Tuhan mendengar doaku.

Hidup. Ia bisa menjadi luka, namun juga bisa menjadi bahagia. Seribu satu alasan dalam setiap luka, hanyalah sebuah sanksi untuk mempertahankan keinginan. Namun nyatanya takdir tidak bisa kita tolak. Merutukinya dan menyalahkan Tuhan hanya akan menelangsakan diri sendiri, juga merupakan suatu tindakan yang tidak bijak. Sementara menerimanya akan membuka banyak kesempatan untuk berbahagia. Ada saatnya setiap manusia berbahagia, ada saatnya pula manusia berduka. Itu barulah namanya manusia yang hidup.

Hidup memang seperti air. Mengalir tanpa peduli ia kemana. Manusia bisa mengarahkannya dengan kehendaknya agar tidak tercemar di dalam kubangan air yang keruh, tapi menyatukan diri dengan air yang bersih. Walaupun tak sepenuhnya bersih. Karena manusia tempatnya salah. Tidak ada yang sempurna. Menjaga kemurnian airnya, seperti menjaga hati setiap pribadi masing-masing. Apabila terlanjur keruh, kita bisa menfiltrasi, seperti mensucikan kembali hati kita lewat doa dan rasa syukur. Keangkuhan diri yang membatu di dalam hati ini telah hancur saat hatiku mulai merasa ikhlas, yang kemudian membuat terciptanya air dari celah pelupuk mataku. Air mata.

 

TAMAT

Yogyakarta, 30 November 2016.
Haricahayabulan

(Diikutkan dalam event “Amazing Orange” milad ke-56 UAD Yogyakarta tahun 2016 dan telah meraih juara 3).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s